Senin, 08 Agustus 2011

RELIGIUITAS SANG PRIYAYI

Judul Buku: Serasi Denyutan Puri
Pengarang: Suryanto Sastroatmodjo
Penerbit: Pustaka Pujangga
Tebal Buku: 60 hlm; 13 x 20, 5 cm
Peresensi: Imamuddin SA
http://sastra-indonesia.com

Religiuitas dewasa ini haruslah dinomorsatukan. Seorang anak manusia hauruslah senantiasa kembali pada hakekata religius yang sebenarnya. Bukan religius asal-asalan. Dan bukan religius kelembagaan semata. Melainkan religius yang mencerminkan pengagungan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pengagungan yang bukan sekadar kembang bualan. Namun berslimutkan dalam tangan perjalanan. Biar realitas kehidupan mengalami penurunan intensitas kecarut-marutannya.

Bentuk pengagungan itu dapat dilakukan dengan jalan mematuhi segala perintah Tuhan serta meninggalkan segala larangan-Nya. Dalam hal ini adalah ingat kepada Tuhan dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Baik bumi sebagai makro kosmos maupun mikro kosmos.

Pada dasarnya, segala kerusakan yang berada pada makro kosmos itu bersumber pada kerusakan mikro kosmosnya; yaitu pribadi manusiannya. Dan kerusakan mikro kosmos itu dipicu oleh batiniah yang keropos. Yang selalu dilingkupi hawa nafsu. Memburu kesementaraan dunia. Meninggalkan kesejatian manusiannya. Menghapus eksistensi tuhannya. Oleh sebab itu, butuhlah kiranya dengan segera, seorang anak manusia kembali melakukan penyucian batinnya. Mencuci reget-reget hati agar dapat mengagungkan Tuhan Yang Maha Suci.

Balada Serasi Denyutan Puri merupakan suatu karya agung dari seorang pujannga besar keraton Surakarta dewasa ini. Penyair merupakan cucu dari Panembahan Adipati Poeger V Lumajang dan putra mantan Ragent Kota Kabupaten Bojonegoro yang bernama Pangeran Adipati Surya Hadi Negara III dengan istri Ray Sri Haluwiyah Wuryaningrum.

Dari cover buku yang bergambar teratai ini, dapat ditelisik bahwa Serasi Denyutan Puri mengandung suatu nilai keilmuan dan pemikiran yang bersumber dari kejernihan batin penulisnya. Teratai yang rekah mengambang di tengah tenangnya air kehidupan seolah akan memberikan keindahan dan kedamaian dalam batiniah anak manusia. Asumsi itu menyemburat dari pandangan terhadap kepribadian pengarang yang kerap melakukan penyucian hati lewat semedi dan tapabrata.

Dalam buku ini, nuansa religiuitas, falsafah, dan mistisme dibangun dengan kental yang kesemuanya itu berakar pada kebudayaan dan tradisi kejawen. Hal itu disebabkan oleh eksistensi beliau yang cenderung mengakrabi dan mengabdikan diri secara penuh dalam kekeratonan Surakarta dan juga bertumpu pada latar belakang beliau sendiri. Sehingga tidak jarang ketika membaca karya ini akan menemukan istilah-istilah bahasa Jawa yang dimasukkan ke dalamnya.

Masukknya unsur bahasa Jawa ke dalam karya ini bukanya melemahkan arti. Melainkan justru membentuk kekuatan tersendiri. Melaluinya, ungkapan bahasa yang dipakai dapat menjadi plural dan multi tafsir. Itu bagi pembaca yang mengerti dan paham bahasa Jawa. Namun bagi mereka yang tidak tahu-menahu dengan bahasa Jawa, ini bisa menjadi membingungkan dan menggaggu dalam proses pembacaan serta pemahaman maknanya. Jadi lebih enak lagi jika buku ini dilengkapi dengan catatan kaki tentang istilah-istilah bahasa Jawa.

Karya KRT. RPA. Suryanto Sastroatmodjo laksna lambaian angin. Bebas bergerak menelusup pada ruang tafsir pembacanya. Ia begitu menyejukkan, namun kadang kala menyentak-mendobrak bagi jiwa yang gerah mencari hakikat dan kesejatian hidup yang sesungguhnya. Ia memberi pemahaman akan tujuan dan makna hidup sekaligus menggugah jiwa untuk segera merengkuh kesejatiannya. Pemahaman yang disuguhkannya merupakan pemahaman khas kejawen yang menyemburat melalui kemurnian religiuitas orang Jawa sesungguhnya. Religiuitas yang tidak condong pada satu kelembagaan agama tertentu. Yaitu religiuitas yang hanya mengarah pada hakekat Tuhan Yang Maha Esa. Sungguh, karya-karya yang sarat akan makna, etika dan estetika, sekaligus sentuhan jiwa.

Kumpulan balada ini dicetak dengan sangat sederhana dan terbagi dalam tiga bagian. Sesederhana jiwa dan kepribadian penyairnya. Namun lebih dari itu, muatannya sungguh luar biasa yang tak tertakar oleh dahaga hati para perindu kesejatian raga. Bagian pertama buku ini berjudul Senandung Bukit dengan muatan sepuluh balada. Yaitu; Balada Segelas Kahwa, Balada Bronjong, Balada Si Lintang Telanjang, Balada Putra Aji, Balada Wiralodra, Balada Kong Gedah, Balada Gesang Geseng, Balada Rohana, Balada Perawan Sulung, dan Balada Si Bintang Timur. Bagian kedua berjudul Dalam Tungku yang berisikan empat belas balada. Yakni; Balada Wuragil Bugil, Balada Tuak Tempelak, Balada Lolong Sang Sono, Balada Kembang Kacang, Balada Kacung, Balada Julang Jalang, Balada Marmer Tembus, Balada Pulau Drini, Balada Nur Rasa, Balada Juntrung, Balada Si Bagus, Balada Rahadyan Ambarkaton, Balada Gagak Rimang, dan Balada Jago Keprok. Dan yang ketiga berjudul Ujung Ke Ujung yang di dalamnya terdapat delapan subjudul. Yaitu; Balada Cenayang, Balada Telawar, Balada Puring, Balada Bianglala, Balada Kepopongan, Balada Nilakandi, Balada Kucing, dan Balada Sang Bocah.

Selain yang terungkap sebelumnya, kekurangan buku ini yang lain adalah tidak adanya daftar isi sehingga sedikit menyulitkan dalam proses pendeteksian isinya. Selain itu, penyematan tiap bagian balada-baladanya kurang nyaman dinikmati sebab dalam pergantian subjudulnya tidak diletakkan dalam lembar yang berbeda. Penyusunan layout-nya dijeluntrungkan saja. Meskipun demikian, keindahan dalam isi dan muatanya tidak berkurang sedikitpun. Itu hanya dari sisi kemasannya dalam bentuk buku saja. Dan selanjutnya, selamat mendalami. Semoga kedamaian kan bersemi di kedalaman sanubari akan keindahan serasi denyutan puri. Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar